Harga Perak

Zona Investasi – Harga Perak mencuri perhatian pasar global setelah menembus level tertinggi sepanjang sejarah dan menyeret emas serta platinum ke jalur penguatan yang sama. Pada akhir pekan perdagangan 26 Desember 2025, logam mulia menjadi sorotan utama investor karena lonjakan harga terjadi hampir serentak di berbagai instrumen. Perak mencatat kenaikan signifikan hingga berada di kisaran 77 dolar AS per ons, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di saat yang sama emas dan platinum juga menembus rekor baru sehingga pasar logam mulia tampak memasuki fase super cycle. Kondisi ini tidak lepas dari ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Federal Reserve pada 2026 serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong investor berburu aset aman. Kombinasi faktor moneter dan geopolitik menjadikan logam mulia kembali menjadi primadona di tengah ketidakpastian global.

Lonjakan Harga Perak dan Rekor Baru Pasar Logam Mulia

Harga perak spot melonjak tajam pada perdagangan Jumat dengan kenaikan harian sekitar tujuh setengah persen hingga menyentuh kisaran 77.30 dolar AS per ons. Rekor intraday bahkan tercapai di level 77.40 dolar AS per ons sebelum harga sedikit terkoreksi. Kenaikan ini membuat perak mencatatkan reli tahunan mencapai sekitar 167 persen yang tergolong luar biasa dibanding instrumen lain. Penguatan tersebut dipicu oleh defisit pasokan global yang berlangsung beberapa tahun terakhir, status perak sebagai mineral penting di Amerika Serikat, serta arus masuk dana investasi yang deras ke sektor logam mulia. Investor global mulai memandang perak bukan sekadar logam industri, tetapi juga aset lindung nilai yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Tren ini memperlihatkan perubahan perilaku pasar yang sebelumnya lebih berfokus pada emas sebagai safe haven utama.

“Baca juga: Cara Mengelola Finance Sesuai Struktur Kepemilikan Perusahaan Menurut Para Ahli”

Harga Perak Menyeret Emas dan Platinum ke Jalur Hijau

Harga Perak yang menembus rekor ikut memberikan sentimen positif bagi emas dan platinum. Emas spot pada hari yang sama naik sekitar satu koma dua persen dan mencapai level di atas 4.531 dolar AS per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di area 4.549 dolar AS per ons. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari juga menguat hingga menutup perdagangan di sekitar 4.552 dolar AS per ons. Platinum tidak ketinggalan mencatat penguatan dan bergerak mendekati level tertinggi sepanjang masa. Fenomena ini memperlihatkan bahwa investor memandang logam mulia sebagai satu kelompok aset yang saling menguatkan ketika sentimen pasar membaik. Penguatan serentak ini jarang terjadi dalam periode singkat sehingga menimbulkan optimisme baru bahwa pasar logam mulia tengah memasuki fase bullish yang lebih panjang.

“Simak juga: Trik Merencanakan Liburan Dengan Bantuan Fitur Gadget Modern, Lebih Efektif atau Sebaliknya?”

Ekspektasi Kebijakan The Fed Jadi Motor Utama

Salah satu pendorong reli logam mulia adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve. Investor mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dengan pemangkasan pertama sekitar pertengahan tahun. Spekulasi penunjukan ketua bank sentral yang lebih lunak oleh Donald Trump memperkuat ekspektasi kebijakan akomodatif. Kondisi ini membuat dolar Amerika Serikat melemah dan membuka ruang penguatan emas perak serta platinum. Peter Grant menilai volatilitas meningkat karena likuiditas tipis menjelang akhir tahun namun tren tetap solid. Ia memproyeksikan perak berpotensi mencapai 80 dolar AS per ons dalam waktu dekat.

Geopolitik dan Dolar Lemah Tambah Daya Tarik Logam Mulia

Selain faktor moneter, dinamika geopolitik global memperbesar minat investor pada aset aman. Laporan serangan udara Amerika Serikat terhadap militan ISIS di Nigeria menambah daftar ketegangan global. Ketidakpastian ini mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen stabil seperti emas dan perak. Pada saat yang sama indeks dolar Amerika Serikat berada di jalur penurunan mingguan. Kondisi ini membuat logam mulia lebih murah bagi pembeli dari luar negeri. Kombinasi risiko geopolitik dan dolar melemah menciptakan lingkungan kondusif bagi reli harga. Pasar menilai logam mulia kembali berperan sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Permintaan Fisik dan Prospek Harga Tahun Depan

Dari sisi permintaan fisik, pasar India menunjukkan pelebaran diskon harga emas ke level tertinggi dalam lebih dari enam bulan karena lonjakan harga menekan pembelian ritel. Sebaliknya di China diskon emas justru menyempit tajam setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam lima tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat beli di negara dengan konsumsi emas besar masih bertahan meski harga tinggi. Peter Grant menargetkan harga emas berpotensi menuju 4.686 dolar AS per ons dengan peluang menembus 5.000 dolar AS per ons pada paruh pertama tahun depan. Secara tahunan harga emas juga diperkirakan mencatat kinerja terkuat sejak 1979 yang ditopang oleh pembelian bank sentral arus masuk dana ke ETF serta tren de dolarasi global. Semua faktor ini memperkuat narasi bahwa pasar logam mulia tengah berada dalam fase pertumbuhan yang jarang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *