Zona Investasi – Industri perbankan nasional menunjukkan fondasi yang kuat di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang bergerak dinamis. Likuiditas terjaga, permodalan berada pada level aman, serta ruang ekspansi kredit masih terbuka lebar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk Hery Gunardi menyampaikan pandangan tersebut dalam forum Economic Outlook 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan. Ia menilai struktur pendanaan perbankan nasional cukup solid untuk menopang ekspansi secara prudent dan berkelanjutan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga mencapai 11,4 persen secara tahunan, sementara rasio Loan to Deposit Ratio terjaga di kisaran 84 persen. Capital Adequacy Ratio industri berada di level 26 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Data ini memperlihatkan kapasitas penyaluran kredit masih luas, namun laju pertumbuhan kredit belum mencerminkan kekuatan fundamental tersebut.
Tantangan permintaan menahan laju ekspansi kredit

Meski ruang pembiayaan terbuka, Industri perbankan menghadapi tantangan dari sisi permintaan kredit. Pertumbuhan kredit secara tahunan hingga akhir 2025 masih berada pada level single digit. Data Bank Indonesia mencatat penurunan permintaan kredit baru di berbagai segmen. Kredit konsumsi turun tajam dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen, sementara permintaan sektor UMKM melemah dari 78,4 persen menjadi 58,8 persen. Undisbursed loan meningkat menjadi rata rata 10,22 persen, menunjukkan fasilitas kredit tersedia namun belum ditarik optimal oleh debitur. Dunia usaha dan rumah tangga memilih sikap wait and see karena mempertimbangkan prospek ekonomi dan daya beli yang belum pulih merata. Kondisi ini menegaskan tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan dana, melainkan pada tingkat keyakinan pelaku usaha untuk berekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi dalam waktu dekat.
Risiko kredit dan tekanan pada sektor UMKM

Perkembangan kualitas kredit turut menjadi perhatian, terutama pada segmen UMKM yang memiliki peran besar dalam struktur ekonomi nasional. Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan pada sektor ini mulai meningkat sejak akhir 2024 dan bertahan pada level lebih tinggi sepanjang 2025. Tekanan arus kas pelaku usaha kecil belum sepenuhnya mereda sehingga bank perlu memperkuat mitigasi risiko dalam setiap penyaluran pembiayaan baru. Pertumbuhan yang melambat berpadu dengan kenaikan risiko kredit mendorong bank menerapkan seleksi lebih ketat berbasis analisis kelayakan usaha dan prospek arus kas. Bank tidak hanya mengejar ekspansi volume, tetapi juga menjaga kualitas portofolio agar tetap sehat. Pendekatan ini menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus melindungi pelaku usaha dari beban kewajiban yang berpotensi menekan kondisi keuangan mereka ketika permintaan pasar belum pulih sepenuhnya.
Perlambatan Sektor Utama dan Sensitivitas Kredit

Laju kredit sangat dipengaruhi dinamika sektor riil yang menopang Produk Domestik Bruto. Manufaktur, perdagangan, dan pertanian berkontribusi besar terhadap perekonomian sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah luas. Ketika aktivitas pada sektor tersebut melambat, kebutuhan modal kerja dan investasi ikut tertahan. Manufaktur yang menyumbang hampir 20 persen terhadap PDB menentukan permintaan pembiayaan untuk ekspansi pabrik dan pembelian mesin. Perdagangan sangat bergantung pada daya beli masyarakat sehingga penurunan konsumsi langsung memengaruhi perputaran stok dan kebutuhan kredit. Sektor pertanian memiliki keterkaitan erat dengan segmen mikro dan UMKM. Tekanan harga dan produksi cepat tercermin pada permintaan pembiayaan usaha kecil. Struktur kredit nasional didominasi sektor padat karya, membuat pertumbuhan kredit sangat sensitif terhadap siklus ekonomi. Diversifikasi pembiayaan menuju sektor bernilai tambah tinggi menjadi agenda penting untuk mendorong stabilitas dan pertumbuhan ke depan.
Sinergi kebijakan dan Dorongan Program Strategis Nasional
Kebijakan fiskal dan moneter bergerak selaras untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Pemerintah mengucurkan likuiditas tambahan sekitar 200 triliun rupiah guna memperkuat kapasitas pembiayaan, namun percepatan kredit tetap membutuhkan peningkatan keyakinan pelaku usaha. Program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis, Program 3 Juta Rumah, dan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih berpotensi menciptakan permintaan baru yang produktif. Perbankan termasuk Himpunan Bank Milik Negara mengambil peran aktif dalam membiayai ekosistem tersebut agar tercipta efek berganda pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli. Sinergi kebijakan yang akomodatif membuka ruang ekspansi ekonomi lebih luas, sementara bank menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset. Fokus kini mengarah pada implementasi nyata di lapangan agar optimisme pelaku usaha berubah menjadi keputusan investasi dan ekspansi yang konkret.
