Zona Investasi – Saham BUMI mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu 4 Maret 2026 ketika harga turun tajam hingga 7,1 persen dan berakhir di level Rp234 per saham. Penurunan ini muncul di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang sedang tertekan cukup dalam. Meskipun harga merosot, aktivitas investor asing justru menunjukkan arah berbeda. Mereka melakukan aksi beli bersih dalam jumlah besar pada saham PT Bumi Resources Tbk. Nilai pembelian bersih asing di pasar reguler mencapai Rp114,6 miliar pada hari yang sama. Situasi ini memunculkan perhatian pelaku pasar karena pergerakan tersebut terjadi saat sentimen pasar sedang negatif. Banyak investor ritel memilih menjual saham energi karena tekanan global, namun sebagian investor besar justru memanfaatkan penurunan harga untuk menambah kepemilikan. Pergerakan yang berlawanan arah ini memunculkan spekulasi mengenai potensi perubahan tren pada saham batu bara. Apalagi sektor energi sedang mendapatkan dukungan dari kenaikan harga komoditas dunia akibat ketegangan geopolitik yang meningkat.
Aksi Beli Asing Jadi Sorotan Pasar
Saham BUMI menjadi pusat perhatian pada perdagangan hari itu karena mencatatkan transaksi beli bersih asing terbesar di Bursa Efek Indonesia. Nilai net buy asing mencapai Rp114,6 miliar sehingga menempatkan saham ini di posisi teratas dalam daftar pembelian investor luar negeri. Aktivitas tersebut bahkan melampaui saham PT Petrosea Tbk yang mencatatkan net buy sebesar Rp87,2 miliar. Kondisi ini cukup menarik karena dalam beberapa waktu terakhir investor asing sering melakukan aksi jual pada saham batu bara tertentu. Saham BUMI sebelumnya sering berada dalam daftar saham yang dilepas oleh investor global. Namun situasi perdagangan pada hari itu menunjukkan perubahan strategi yang cukup mencolok. Banyak pelaku pasar melihat aksi tersebut sebagai langkah akumulasi ketika harga berada pada level rendah. Investor besar sering memanfaatkan kondisi pasar yang panik untuk mengumpulkan saham dengan valuasi lebih murah. Strategi ini juga sering muncul ketika ada ekspektasi perbaikan fundamental sektor energi dalam jangka menengah hingga panjang.
Tekanan Harga Saham Terjadi Sejak Beberapa Pekan

Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk sebenarnya sudah berada dalam tekanan cukup lama sebelum penurunan tajam pada awal Maret. Dalam satu pekan terakhir harga saham BUMI turun sekitar 13,3 persen sehingga menunjukkan tren pelemahan yang konsisten. Tekanan tersebut juga terlihat dalam periode satu bulan ketika harga terkoreksi sekitar 11,3 persen. Jika dihitung sejak awal tahun, penurunan bahkan mencapai sekitar 36 persen. Angka ini memperlihatkan besarnya tekanan yang dialami saham perusahaan tambang tersebut. Kondisi pasar global turut mempengaruhi pergerakan saham energi di Indonesia. Ketidakpastian ekonomi dan volatilitas harga komoditas membuat investor bersikap lebih berhati hati. Namun sebagian analis melihat koreksi dalam sebagai peluang bagi investor jangka panjang. Harga saham yang turun signifikan sering menarik minat pembeli besar yang percaya pada potensi sektor energi. Karena itu aktivitas beli asing pada saham BUMI memicu diskusi mengenai kemungkinan fase akumulasi oleh investor institusi.
IHSG Rontok di Tengah Tekanan Pasar Global

Pergerakan saham BUMI terjadi di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang mengalami tekanan luas. Indeks Harga Saham Gabungan turun tajam hingga 362,7 poin atau sekitar 4,57 persen dan berakhir pada level 7.577. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang melanda banyak sektor di Bursa Efek Indonesia. Dari total saham yang diperdagangkan hanya 61 saham mencatatkan kenaikan. Sebanyak 767 saham mengalami penurunan harga sementara 130 saham tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi pasar pada hari tersebut mencapai Rp29,6 triliun yang menunjukkan tingginya aktivitas jual beli di tengah volatilitas pasar. Investor asing secara keseluruhan mencatatkan transaksi jual bersih sekitar Rp118 miliar di seluruh pasar saham. Data Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan bahwa total net sell asing sepanjang tahun berjalan sudah mencapai Rp6,8 triliun. Tekanan ini mencerminkan kehati hatian investor global terhadap pasar negara berkembang di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik internasional.
Harga Batu Bara Naik di Tengah Ketegangan Global

Kenaikan harga batu bara menjadi salah satu faktor penting yang menarik perhatian investor terhadap saham sektor energi. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat Israel dan Iran memicu gangguan pada pasar energi dunia. Serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah membuat pasokan minyak dan gas mengalami ketidakpastian. Situasi ini mendorong pasar mencari sumber energi alternatif yang lebih stabil. Batu bara menjadi salah satu komoditas yang mendapat manfaat dari kondisi tersebut. Analis dari Stockbit Sekuritas menilai bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka panjang dapat ikut mendorong harga energi substitusi seperti batu bara. Prospek ini membuat sejumlah saham batu bara kembali dilirik oleh investor. Stockbit menyebut tiga saham unggulan sektor ini yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk dengan kode AADI, PT Indo Tambangraya Megah Tbk dengan kode ITMG, dan PT Bukit Asam Tbk dengan kode PTBA. Selain ketiga perusahaan tersebut, saham PT Bumi Resources Tbk juga tetap masuk dalam radar investor karena perannya sebagai salah satu produsen batu bara besar di Indonesia.
